Posts

Showing posts from May, 2020

Sebuah Misi 'KATANYA'

Cukup usang ternyata raga ini hidup di dunia, sudah 2 dekade dan tetap saja tak pernah puas. Ah dasar, tak pernah puas, tak pernah jelas, bahkan tak pernah sadar bila Tuhan sudah banyak memberi bahagia dan tak pantaslah bila tak puas. Bila sapiens lainnya selalu bertanya kemana arahku? Tentulah aku bingung menjawab. Karena arah bukanlah acuan yang membuatku bangkit, bukan ambisi yang membuatku bahagia, hanya rencana yang membuatku jatuh kapan saja. Bagaimana mungkin debu sepertiku berlaku layaknya Tuhan? Sudahkah merasa sebersih deterjen di iklan-iklan?. Setiap jalan yang   ku tapak tak sempatlah kusebut arah, hanya misi dari Tuhan yang harus kuselesaikan betapapun misi itu menghancurkan rencana yang kubuat. Terkadang, memang tak jelas bila hidup berpijak tanpa arah, layaknya kapal tanpa kompas dan nahkoda, terombang-ambing. Namun apa salahnya? Bukankah arah yang kita atur tetaplah rencana yang belum mesti di validasi oleh Sang Pencipta? Oh atau mungkin kita tergiur untuk menca...

Puan yang Dungu Akalnya

Kala itu, akalku seakan beku pada masa yang membuatku menganga, sang pelitaku menangis. Ya, menangis meratapi tingkah sapiens yang berakal tapi akalnya telah usang dan tak terpakai hingga tingkah lakunya mulai menjijikkan dan membuat semua terheran. Tingkahnya ini, tentulah ia yang menanggung kelak, keusangan akalnya kan terbayar pada realita yang akan dihadapinya kedepan. Namun, sungguh ingin kulemparnya dia dengan ribuan tanya, kata, dan semua yang ada di benakku, kuhunus bila perlu akal usangnya. Masih amat untung diriku tak ingin seperti dirinya dengan akal usangnya. Walau pelitaku tak henti meratap, terduduk nelangsa, dan tak henti berkaca-kaca, aku hanya bisa diam dan menunggu realita yang akan ia dapatkan atas keusangan akalnya. Bila mungkin aku cukup dikatakan pantas dan patut untuk mengungkap kata, hanya ingin ku katakan bila: “Tega nian kau buat pelitaku berurai air mata, tak makan tak ada daya, bersujud pada yang kuasa, demi bejatnya dirimu. Oh wahai sapiens, tak ...

Sepekan Berkelana

            Sepekan berkelana, membuat pikiran lama mengulas masa emasnya. Ketika yang dikata luka hanya sebuah canda untuk selalu di haha haha, ketika goresan tajam bahkan tak terasa karena banyak manusia yang seakan disampingnya. Kini, masa tlah tunjukkan realita sesungguhnya, raga dituntut berdikari tanpa tapi. Masa memberi ulasan makna tentang siapa puan sesungguhnya, puan tak dapat lagi harapkan tuan untuk disampingnya. Magma dalam hati yang menganga tunjukkan rupa tuan yang gelap tanpa cahaya. Apa lagi yang puan harap dari tuan? Bukankah tuan sudah cukup memberi gores yang merana? Bukankah tuan sudah lancing untuk pulang tanpa berkabar sebelumnya?. Puan terdiam dan mulai meneteslah air pada pelupuk mata. Puan tertampar dan seakan menjadi manusia paling merugi membuang 10 tahun masanya untuk mengingat tuan yang pulang dengan lancing, tanpa secuil kata yang bikin tenang, dan menyisakkan kenangan yang tetap terngiang.  ...

Sepucuk Makna Untuk Dinda

            Oi dinda, bila puan membaca seutas ungkap romansa ini, puan tentu berkepala tak lagi satu. Namun, tak apa bila kepala mulai berat berkelana di masa yang kini ada, puan tetap kita orang doakan sentosa dan layak bahagia. Anggap saja ungkap kata milik penulis ulung yang teramat gamang karena corona. Yang terpenting, puan senantiasa paham bilamana kasih tetap ada untuk sang dinda. Kiranya hanya ingin nostalgia pada masa yang mungkin tak lagi berbekas pada angan yang ada. Oi dinda, tersipu adalah kata pertama saat melihat engkau bersama bunda di lantai dekat sepeda. Kala itu, tak sengaja sang bunda mengajakku bercerita sambil bercanda, diam-diam membicarakan dinda yang teramat tersipu pada salah satu sikapnya. Ketika sang bunda pulang, sempat kuketuk bilah kayu dinda sembari tawarkan bantu bilamana dinda merasa sepi dan hampa. Hampir ku lupa kapan kiranya kita mulai dekat dan saling berpeluk hangat, mulai akrab tanpa sedi...

Akar

Awalnya, yang dasar yang selalu kuanggap penopang, selalu tangguh menahan apapun hal menjulang sampai ke awang-awang. Semua berbalik, yang dasar adalah api, menyulut murka sampai pucuk tertinggi. Mungkin semesta paham bila dasar terlalu kubanhga,  terlalu kupuja,  hingga ku lupa menapak itu apa sesungguhnya. Tak salah bila semua berakhir pada murka,  karena dasarku hanyalah ungkapan tanpa realita. Terlalu angkuh sampai tak tahu tanah mana tempat ku ditempa. Lantas,  dasar kuubah,  berdalih perubahan adalah jalan utama. Nyatanya,  merubah tak sebaik yang diri ini kira,  merubah hanya pura-pura yang fatamorgana. Semua rusak dan tak ada yang tersisa. Terkoyak bak kertas di terbakar api membara. Aku mulai bertanya,  mengapa kita perlu memilih suatu dasar ini? Perlukah kiranya kita hidup dengan suatu dasar? Bagaimana bila dasar bak benteng ini akhirnya runtuh?. Sang tuan datang untuk menjawab semua tanya, tuan yang menimang manja dikala belia. Tuan ...