Sebuah Misi 'KATANYA'
Cukup usang
ternyata raga ini hidup di dunia, sudah 2 dekade dan tetap saja tak pernah
puas. Ah dasar, tak pernah puas, tak pernah jelas, bahkan tak pernah sadar bila
Tuhan sudah banyak memberi bahagia dan tak pantaslah bila tak puas. Bila sapiens
lainnya selalu bertanya kemana arahku? Tentulah aku bingung menjawab. Karena arah
bukanlah acuan yang membuatku bangkit, bukan ambisi yang membuatku bahagia,
hanya rencana yang membuatku jatuh kapan saja. Bagaimana mungkin debu sepertiku
berlaku layaknya Tuhan? Sudahkah merasa sebersih deterjen di iklan-iklan?. Setiap
jalan yang ku tapak tak sempatlah
kusebut arah, hanya misi dari Tuhan yang harus kuselesaikan betapapun misi itu
menghancurkan rencana yang kubuat. Terkadang, memang tak jelas bila hidup
berpijak tanpa arah, layaknya kapal tanpa kompas dan nahkoda, terombang-ambing.
Namun apa salahnya? Bukankah arah yang kita atur tetaplah rencana yang belum
mesti di validasi oleh Sang Pencipta? Oh atau mungkin kita tergiur untuk
mencapai arah dengan validasi sang penguasa?. Berbicara mengenai sang penguasa,
bagaimana impian kamerad untuk sang penguasa? Pantaskah bila kita cuap
barangkali sepatah kalimat untuknya?. Mana kiranya yang lebih diinginkan? Penguasa
jujur atau penguasa “bohong demi kebaikan” katanya, atau bahkan lebih ingin
penguasa yang ya terlampau dungu akalnya?. Oh kamerad mungkin engkau lupa siapa
yang kau sebut penguasa bukan? Hidup pun mulai mengikuti arus Hobbes,
menjadilah srigala semua sapiens yang berakal itu. Menjadi tak kenal mana kawan
dan semua hanyalah ambisi untuk nantinya tentu melegalkan arah. Lantas,
bagaimana kamerad tanggapi arah yang digaungkan oleh semua sapiens berakal itu?
Comments
Post a Comment