DUA PULUH DELAPAN

Lagi, dan lagi nyatanya menghilangkan perayaan tak pelak menghilangkan segala macam kompleksitas rasa "kehilangan" yang sesungguhnya. Tetap sulit rasanya berjalan bersama 28 Februari, juga 27 hari dalam Februari lainnya. Memang berhasil meniadakan perayaan, namun sisa-sisa memar itu nyatanya masih merona walau lebih dari 1 dekade adanya. Kini, tak ada lagi hadirmu dalam setiap kisah malam tidurku, tak pernah lagi wujudmu mampir dan sekadar tersenyum pilu menengok hidupku yang seakan berhenti ketika kau berhenti menghidupi hidupku. Memang rela tak semudah lisan berkata, ikhlas juga tak segampang menghabiskan air dalam gelas. Derita? sepertinya kafka lebih paham bagaimana kemudian rasanya mengenyam derita, juga mengunyah dengan seluruh isi dan kulitnya. 


Proses? banyak manusia kemudian bernalar bila hidupku sepenuhnya berhenti ketika kau tak berpijak lagi, seperti hanya menghabiskan sisa waktu sebelum mati. Namun, aku tetap berjalan, bangkit bersama manusia lain yang sama rusaknya denganku. Tak sepantasnya manusia baru dapat memberikan stigma akan proses yang telah kujalani selama tahun-tahun mati belakangan ini. 


Ego? jelas masih tinggi ego yang merasuki diri hingga aneh rasanya terusik dengan hal-hal yang sebelumnya tak pernah hadir dalam hidup. Kemudian muncul pilihan, tentang kuselesaikan pemahaman pada diri, atau memahami sambil berproses dengan yang lain. Lalu yang kupilih? nyatanya rasaku masih lekat dengan usik yang membuat segala-galanya menjadi asing dan bising. Realita? memang benar adanya bila realita selalu mengejutkan dengan berbagai macam cara. 


Kini, aku perlahan memilih realita, juga berbagai macam tawaran "bahagia" yang disuguhkan walau masih banyak kecamuk dalam diri yang merasa terusik. Seperti saat aku menyelami Ruta sambil menyeduh kopi, tiba-tiba kopi itu tersambar membasahi tiap halaman Ruta. tidak semuanya, tapi tetap saja terusik rasanya. Semoga, setelah basah kembali kering, rasa usik menjadi samar dengan masa yang juga akan memakan warna putih halaman Ruta menjadi secoklat samparan kopi pagi. 

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

Sepucuk Makna Untuk Dinda