Sepekan Berkelana


            Sepekan berkelana, membuat pikiran lama mengulas masa emasnya. Ketika yang dikata luka hanya sebuah canda untuk selalu di haha haha, ketika goresan tajam bahkan tak terasa karena banyak manusia yang seakan disampingnya. Kini, masa tlah tunjukkan realita sesungguhnya, raga dituntut berdikari tanpa tapi. Masa memberi ulasan makna tentang siapa puan sesungguhnya, puan tak dapat lagi harapkan tuan untuk disampingnya. Magma dalam hati yang menganga tunjukkan rupa tuan yang gelap tanpa cahaya. Apa lagi yang puan harap dari tuan? Bukankah tuan sudah cukup memberi gores yang merana? Bukankah tuan sudah lancing untuk pulang tanpa berkabar sebelumnya?. Puan terdiam dan mulai meneteslah air pada pelupuk mata. Puan tertampar dan seakan menjadi manusia paling merugi membuang 10 tahun masanya untuk mengingat tuan yang pulang dengan lancing, tanpa secuil kata yang bikin tenang, dan menyisakkan kenangan yang tetap terngiang. 

            Puan menepi pada ruang sempit untuk temukan maksud sang Esa memanggil tuan tanpa izin dan berpesan sebelumnya. Tiap tahun rasa nanar terbayang pada puan bila ingin mencoba bersama dengan rasa yang bukan tuan. Wujud tuan yang niskala dalam ruang pikiran semakin menganga bilamana puan ingin membuka lembar putih dengan warna yang berbeda. Oh, tingginya mimpi puan karena berfikir bila tuan tak rela puan bahagia dalam fana, mungkin saja tuan inginkan puan ikut kiranya ke alam baka. Namun, apalah daya, gunungan dosa memberi cambuk yang nyata kalau sang Esa memberi puan kesempatan untuk lebih berbaik pada semesta sebelum pulang pada kepada-Nya. Kini, puan bertekad untung memberi ruang sisipan untuk tuan karena tak mungkinlah terhapus memori dan rasa. Ruang utama senantiasa puan siapkan untuk rasa yang nantinya bersama hingga akhir masa. Sungguh maaf selalu terbayang, pastilah tuan mengerti bila 10 tahun sudah cukup rasanya puan meratap tak berakal, berharap pada yang takkan pernah ada untuk kedua kalinya. Terima kasih tuan telah ajarkan puan menata hidup yang senantiasa bermakna, menjadi sapiens yang selalu berbagi kebaikan untuk sesama, dan tancapkan prinsip untuk tuang canda dalam saat bersua dengan rombongan sebaya. Niscaya pesan tuan menancap lekat pada akal untuk selamanya puan haruslah jadi matahari yang tau porsi menyebar hangat bukan panas yang terlalu merona, walau puan terbakar sendiri hingga nanti habis masa, ingatlah hidup puan untuk memberi kasih pada sesama.

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda