Puan yang Dungu Akalnya
Kala itu,
akalku seakan beku pada masa yang membuatku menganga, sang pelitaku menangis.
Ya, menangis meratapi tingkah sapiens yang berakal tapi akalnya telah usang dan
tak terpakai hingga tingkah lakunya mulai menjijikkan dan membuat semua
terheran. Tingkahnya ini, tentulah ia yang menanggung kelak, keusangan akalnya
kan terbayar pada realita yang akan dihadapinya kedepan. Namun, sungguh ingin
kulemparnya dia dengan ribuan tanya, kata, dan semua yang ada di benakku,
kuhunus bila perlu akal usangnya. Masih amat untung diriku tak ingin seperti
dirinya dengan akal usangnya. Walau pelitaku tak henti meratap, terduduk
nelangsa, dan tak henti berkaca-kaca, aku hanya bisa diam dan menunggu realita
yang akan ia dapatkan atas keusangan akalnya. Bila mungkin aku cukup dikatakan
pantas dan patut untuk mengungkap kata, hanya ingin ku katakan bila:
“Tega nian
kau buat pelitaku berurai air mata, tak makan tak ada daya, bersujud pada yang
kuasa, demi bejatnya dirimu. Oh wahai sapiens, tak pernahkah kiranya engkau kenal balas budi atas
jasa pelitaku yang selalu menuntunmu saat dikau tak bisa mengucap kata? Yakinkah kau senang? Benarkah
tangis yang kau urai itu? Sudah banggakah diriu dapatkan yang kau pinta? Terlalu
usangkah pikiranmu? Tidakkah kau menengok dan melihat siapa saja yang kau buat
nelangsa? Masihkah kiranya kau memiliki paras untuk bersolek dan ditampilkan
pada dunia dengan fakta yang terlihat pada ragamu kelak? Wow……….. tak hentinya
aku bertanya, berpikir, dan memberikan validitas pada keherananku. Tentu aku
tahu dirimu yang teramat riang dan suka haha haha, dirimu yang terkesan diam
walau dipaksa mengakuinya. Inikah dirimu sebenarnya? Sepicik itukah pikiranmu
adanya? Mungkin kau gila? Oh, atau aku yang gila? Menilai kepolosan dan ke
dunguan akalmu yang merampas harga dirimu sendiri?”. Heiii puan, mungkin kau
jalang dan tak pernah tahu arti kata maaf dan malu. Sungguh hebatnya kau
membuat semua orang merana, meronta, dan penuh tanda tanya. Tahukah kau,
terkadang pelitaku masih memikirkan nasibmu kelak, nasib dari benih yang kau
tanam, tapi ia tetap gamang karena masih tak menyangka akan perbuatanmu yang
tak menyentuh nalar. Sungguh malaikat kiranya pelitaku ini, ia tetap memikirkan
dimana dirimu bernaung kelak, bagaimana kehidupan yang akan datang menyambutmu,
adakah materi yang menanggung hidupmu, mungkin masih saja berputar tanya itu di
benak pelitaku.
Aku dan
pelitaku mungkin bagian dari yang memikirkanmu, heran atas tingkahmu, dan wajar
bila korban yang terkait dekat dengan problematikamu bahkan tak lagi anggap kau
jalang tapi lebih dari jahat. Yang jalang masihlah ada baik di dalamnya, namun
yang jahat dan hanya ingin memuas diri? Coba dikata, dimana sisi baiknya? Hanyalah
mungkin ada pada ungkapan “semua orang diciptakan baik, dan menjadi jahat
adalah pilihan”. Dikau tercipta baik, terdoa baik, terharap baik, dan
teringinkan baik tentunya. Tapi, dikau sendiri yang memilih jalan untuk memuas
diri, tak berpikir untuk kemudian hari, dan tetap meluruskan niat tuk menjadi
jahat pada orang lain maupun dirimu sendiri.
Comments
Post a Comment