Sepucuk Makna Untuk Dinda
Oi dinda,
bila puan membaca seutas ungkap romansa ini, puan tentu berkepala tak lagi
satu. Namun, tak apa bila kepala mulai berat berkelana di masa yang kini ada,
puan tetap kita orang doakan sentosa dan layak bahagia. Anggap saja ungkap kata
milik penulis ulung yang teramat gamang karena corona. Yang terpenting, puan
senantiasa paham bilamana kasih tetap ada untuk sang dinda. Kiranya hanya ingin
nostalgia pada masa yang mungkin tak lagi berbekas pada angan yang ada. Oi dinda,
tersipu adalah kata pertama saat melihat engkau bersama bunda di lantai dekat
sepeda. Kala itu, tak sengaja sang bunda mengajakku bercerita sambil bercanda,
diam-diam membicarakan dinda yang teramat tersipu pada salah satu sikapnya.
Ketika sang bunda pulang, sempat kuketuk bilah kayu dinda sembari tawarkan
bantu bilamana dinda merasa sepi dan hampa. Hampir ku lupa kapan kiranya kita
mulai dekat dan saling berpeluk hangat, mulai akrab tanpa sedikitpun adab, dan
mulai berlinang ketika salah satu terluka.
Kini, dinda
telah berencana memilih untuk singgah
dan menetap di tempat berbeda, barangkali untuk waktu yang cukup lama. Mungkin
si ulung ini hanya bingung hendak menetap dimana bila butuh sandar saat ada
sedikit luka. Obat kuning kecil yang dikata merah pun rasanya tak cukup tanpa
peluk hangat dinda. Mungkin kelak akan sedikit berbeda karena tembok yang tak lagi
jaraknya melebihi 3 ubin seperti biasa, terbatas zinc yang berisik oleh langkah
manusia. Mau apa dikata, dinda tetap kiranya memilih singgah di tepat yang
berbeda. Si ulung hanya berharap bilamana sesekali dapat bersua diantara
padatnya dunia fana, diantara absurdnya goresan kertas yang dikata bernilai
nantinya. Oi dinda, semoga dikau tetap bahagia dalam luka yang mungkin masih
menganga, semoga kepala dua adalah impianmu menuju dewasa bukan penyesalanmu
tak menikmati masa sebelumnya. Bukan kerupuk apalagi kapas, kau adalah kertas
yang berisi goresan makna, yang akan luntur bilamana benci meradang menyapa,
hanyut bilamana tak ada seseorang bersama, dan terkoyak bilamana tiang sudah rapuh
tak kuat menyangga. Tetaplah kuat, hidup, dan bersahaja, engkau tetap dinda
yang hadir untuk membuat sapiens lebih bersuka cita.
Tertanda,
N.A
Comments
Post a Comment