deja ir la tristeza

       Tidak tepat 1 dekade lalu, namun pastinya tahun ini adalah kali terakhir masa memberikan kesempatan untuk melepas apa yang selayaknya dilepas. Bila kiranya boleh mengintip kembali apa yang telah masa ciptakan 1 dekade lalu, itu adalah kali pertama sang diri percaya akan masa yang disebut dengan indah serta bahagia. Sang diri, kala itu, tak ubahya seonggok diri kotor dengan segala macam amarah di setiap sisi raga dan jiwa. Kini, masa kembali menciptakan rasa sesal pada sang diri yang dengan piciknya terjebak berulang kali pada masa 1 dekade lalu. Sang diri tak lagi merasakan amarah, lebih tepatnya sang diri ingin merajut kembali masa yang ia percaya sebagai indah dan bahagia. Ironi, bahkan sangat utopis bila menelisik kata indah dan bahagia, karena yang selalu membersamai sang diri dalam langkahnya adalah hampa. Sesal? rasanya sang diri tak pantas menyesali apa yang telah digariskan oleh semesta dan tervalidasi oleh masa. Hanya tenang yang sejatinya sang diri harapkan dari setiap prosesnya menata. Melupakan? tentunya bukan lupa yang akan menyembuhkan luka, semakin sang diri merawat lupa, semakin cepat pula sang diri meraih ingat akan luka. 
            Menata, yang paling tepat untuk menjelaskan 1 dekade sang diri berjalan sendiri di atas bara api. Luka tak lagi pedih dirasa, hanya semacam sandungan pengingat bila sang diri seringkali mengenyam luka, membiarkannya menganga, dan tak pernah mencari penawarnya. Mengobati juga bukan salah satu solusinya, menatanya, menyiapkan ruang yang semestinya adalah salah satu upaya penghormatan terakhir sang diri pada masa indah dan bahagia. Tepat 2 hari lalu sang diri bertemu dengan diri lain yang ada dalam masa indah dan bahagia. Senang? lebih tepatnya sang diri memalingkan muka dan memilih menolaknya. ada rasa aneh ketika diri lain melambai dengan senym simpul di wajahnya, ada rasa marah karena lambaian itu seperti menunjukkan selamanya. Sang diri takkan lagi dapat menjumpa, walau sedetik dalam bunga tidurnya, lambaian itu jelas selamanya. Namun, sang diri juga menyimpan rasa duka saat diri lainnya terhenti pada masa indah dan bahagia yang nyatanya sudah tak lagi nyata karena memori belaka. Untuk uluran tangan dan berbagai macam tawaran bangkit, sang diri tentu ucap terimakasih pada diri lainnya. Kini, walaupun gambaran rasa yang diberikan oleh 2 manusia panutan sang diri semakin berantakan, kiranya sang diri masih mengharap dapat menciptakan kisah lain selain duka, luka, ataupun nestapa. Sudah lepas, sudah siap tempatnya, selamat jalan untuk selamanya, sang diri bangga dapat bertemu masa indah dan bahagia, semoga masih ada masa dan kisah bahagia lain yang tersisa untuk sang diri di masa depan yang entah kapan. 

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda