Afanas


Cukup lama kita mengenal, rasanya masih tak menyangka mendapatkan kesempatan mengenal dirimu yang mungkin susah untuk dikenal. Ketika pertama mengetuk pintu kayu di hunian lawas itu, aku hanya bermaksud mencari manusia lain untuk sesekali keluar membeli kudapan bersama. Nyatanya, kita sampai pada masa dimana kita saling berbagi, mengumbar haha hihi, menangis tanpa henti, juga berjalan bersama tuk hilangkan penat dan emosi. Seharusnya kita ganjil, ada manusia lain yang membersamai kita, dia yang sabar dan kuat menghadapi caci maki penghuni lelaki biadab tak berguna. Aku masih berharap kita dapat kembali bersua dengan sosoknya, mungkin sesekali bersua lewat media, atau sekadar salig bertukar pesan singkat untuk bertanya perihal kesehatannya. Bila mengingat masa lampau yang sering dijadikan bahan pelampiasan emosi, aku beruntung bertemu dengan partner sepertimu, walau kita sering disibukkan dengan dunia masing-masing, selalu ada kesempatan untuk kita meletakkan kepentingan kita dan kemudian melangkah untuk melepas penat bersama. 

Terima kasih untuk berbagai macam kebahagiaan yang dibagi, juga ketulusan, pengertian, dan pundakmu yang selalu kurepoti karena terlampau cengeng seperti bayi. Kini, usiamu bertambah dalam angka dan masa mu berkurang di dunia. Sedikit pilu rasanya, di tahun keempat ini kita tak memiliki kesempatan untuk bersua, bertatap muka, ataupun saling memeluk walau tak begitu lama. Maaf bila seringkali aku tak dapat menemanimu bila sedang diterpa duka, juga tak membersamaimu dalam pencapaianmu yang luar biasa. Kau diciptakan untuk menjadi perempuan kuat, hebat, dengan berbagai macam bakat. Hingga usiamu kini, kau dapat menjalani segala macam permasalahan hidup yang entah seberapa banyaknya, kau dapat melewatinya dan membiarkan proses menuntunmu mencapai tujuanmu mencapai bahagia. Apapun yang sekarang kau pikirkan, segala macam hal yang mulai menekanmu, juga berbagai macam mulut yang mungkin membicarakanmu, kau tetap tangguh walau mungkin kalbumu teramat rapuh. Kapanpun kau membutuhkan tempat untuk bertukar rasa duka, kecewa, ataupun amarah yang merah merona, kau memilikiku untuk membuang segala macam sampah hidup yang menekanmu. Walau aku hanya bagian kecil dari rangkaian perjalanan panjangmu, aku bangga mengenalmu, menjadikanmu sahabatku, juga diberi kesempatan menjadi roommate mu. Semoga lekas bertemu di masa yang berbahagia, kuharap perjumpaan kita bukanlah akhir dan akan kekal hingga nanti.


Kali ini masa tak memihak, tak memberi ruang untuk bertatap muka,

Tapi tak apa, yang terpenting dirimu sehat sentosa,

Kuat menempuh jalan yang tak jelas arahnya,

Kau tak butuh kompas ataupun alat bantu lainnya,

Kau nahkodanya, kau yang nanti menentukan arahnya,

Menuju harapanmu untuk mencapai bahagia,


Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda