Kaku

Genap beberapa pekan wadah percakapanku penuh dengan kegusaran lelaki tentang budaya yang dijalankan dalam suatu keyakinan tertentu. Harus ada yang diperbaiki katanya, beberapa perilaku manusia yang gila akan vibes pada satu bulan spesial pun perlu dikoreksi. Bila ditanya bagaimana ku menjawabnya, tentu tak terlalu antusias. Bagiku, pilihan seseorang untuk bertindak mendahulukan kewajiban, atau menomersekiankan kewajiban adalah urusannya masing-masing. Sebagai manusia yang sebatas mengamati, tentu bukan ranah kita untuk mengharuskan perbaikan atau mengoreksi sebagian kecil perilaku seseorang. Gusar tentu saja tak salah, menginginkan perubahan pun tak pernah dianggap hina. Namun, mengapa sepenting itu perilaku orang lain untukmu bung, bahkan mereka tak sedikitpun mengusikmu, iman mu pun tak goyah karna perilaku mereka. ahhhh shit, biarkanlah mereka menjalankan apa yang mereka inginkan. Kau inginkan perubahan dari mereka tapi dirimu sendiri cobalah berkaca walau hanya dengan kepingan cermin yang pecah bung. Beberapa kali bahkan mungkin tak kau sadari, kau umbar rasa banggamu menjalankan kewajiban sesuai dengan perintah yang kuasa, kau umbar bila selalu tepatlah kau beribadah, menjalankan sunnah, bahkan tak pernah absen menuju tempat ibadah. Terkadang pun kau menyindirku dan bahkan menyuruhku untuk turut serta menjalankan kegiatan pemenuhan kewajibanmu. Aku takkan marah dengan itu, tapi sadarlah bila beberapa kata yang kau ketik seakan memerintahku untuk mengubah zona nyamanku, caraku berdialek dengan tuhanku, bahkan kebiasaanku memilih tempat nyaman untuk menjalankan kewajibanku. Kau sungguh mengganggu bung, tidak bisakah kau cukup diam dan menjalankan apa yang ingin kau jalankan tanpa menyuruh orang lain sepertimu? ahhh shit semakin tak ingin ku membagi setiap bagian pikiranku pada pikiran kaku sepertimu. Bahkan percakapan kita pun terasa sepihak, katanya akan kau dengarkan pemikiranku, akan kau tanggapi sudut pandang yang kuberikan. Tapi nyatanya? ahh kau dengar pun belum tentu. Lantas bagaimana kau menuntut perubahan bila dirimu pun tak menerima perbedaan pemikiran. Enyahlah kau, aku cukup mengenalmu sebagai teman dan tak lebih, kau terlalu kaku, mungkin kau akan menjadi garda terdepan bila kau merasa keyakinanmu 'ternodai', tuhanmu 'diejek' atau beberapa kaum sepertimu 'diserang'. Tidakkah kau mengerti bila Tuhan tak butuh pembelaan, keyakinanmu pun tak perlu kau koar koarkan. Jalani hidup sewajarnya, bahkan jangan sampai orang lain tau bagaimana kau berlaku baik, menjalankan kewajiban, dan memohon pada tuhan. it's all about privacy right? keyakinan cukup disimpan masing-masing. Sekadar mengingatkan tentu tak ada salahnya, namun jika memaksakan perubahan pada yang lainnya, ohh come on, cobalah sedikit mencicipi liberalis, semua bebas melakukan apapun asal tak merugikan orang lain. Perilaku mereka tak membuatmu terluka kan? atau rugi? atau bahkan berkurang keimanan dan ketaqwaanmu?. Maka, diamlah bung, jalani apa yang perlu kau jalani, biarkan orang lain bebas berekspresi.

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda