Faith
Belakangan kisah kasih satu amin beda tujuan menjadi isu yang selalu digoreng dalam berbagai macam media. Beberapa menyebut bila jalinan kasih akan sia-sia dan membuang waktu bila pada akhirnya tetap tak bisa bersama. Aku pun pernah berada pada posisi mereka, cukup lama menjalin kasih dengan manusia yang berbeda dalam doa, pujian, maupun kewajiban dalam keyakinan. Saat memutuskan untuk menjalin kasih, aku cukup antusias karena berbagai macam kecocokan yang kita miliki baik dalam hal cara berpikir, menanggapi permasalahan, maupun tujuan hidup kedepan. Kita merajut kasih dengan berbagai macam pelajaran tentang indahnya suatu perbedaan. Dia adalah sosok yang dapat kukatakan sebagai kekasih ideal dengan kedewasaan dalam berpikir maupun berperilaku walaupun nyatanya kita adalah sebaya. Beberapa kali pula ia menungguku berdoa dan aku pun menunggunya berdoa, tak pernah sedikitpun kami salaing menempatkan keyakinan kami pada posisi lebih unggul satu sama lain. Keyakinan adalah hal yang cukup disimpan rapat, bahkan aku tak pernah ingin memperlihatkan tanggungjawab yang kuberikan pada keyakinan yang kugenggam. Dia pun merasa bila keyakinan cukuplah rasa yang kau simpan untuk berdialektika pada tuhan setiap hari bukan dialektika pada satu momentum. Kala itu, aku merasa bila perbedaan yang kita miliki adalah bumbu yang membuat jalinan kasih semakin erat dan terikat. Perbedaan membuat kita tak pernah sekalipun meributkan hal sepele entah kecemburuan, maupun rasa ingin diperhatikan. Perbedaan membuat kita selalu meletakkan diskusi pada titik tumpu dalam setiap hal yang membuat gusar dan ingin diperbincangkan. Aku tak pernah menyesal menjadi sepenggal bagian dari perjalanan kasihnya, perjalanan yang membuat kita saling belajar untuk menjadi jauh lebih dewasa dan memaknai keyakinan kita masing-masing. Selama apapun ittu, aku tak pernah menyesal pernah bersama dengannya yang selalu menyebutku dalam doanya untuk dimintakan keringanan pada tuhannya. Sesekali ia berkata bila tiap hari selalu ia titipkan diriku pada tuhannya agar selalu dijaga dan mendapatkan kebahagiaan setiap detiknya. Mungkin kita takkan pernah jadi satu sampai kapanpun itu, mungkin semesta bahkan tuhan akan terus memisahkan kita agar tak saling menyatu, dan mungkin memang takdir kali ini tak mempertemukan kita untuk menjadi kisah kasih yang indah kala itu. Namun, aku akan tetap menitipkanmu pada tuhanku agar selalu mendapat apa yang kau mau, membahagiakan ibumu, dan menggapai impianmu untuk mati di pelukan ayahandamu.
Comments
Post a Comment