Kukira Usai
Kukira semua telah usai kala itu, awan seperti tak ingin menampakkan rona cerah sedikitpun. Gemuruh amarah semakin menggelegar malam itu. Ya, kupastikan semua akan usai kala itu, tapi untuk kesekian kalinya, aku tetap tak ingin semua yang sudah hancur menjadi semakin hancur tanpa sisa. Seperti biasa, aku yang awalnya memutuskan untuk acuh dan terpaku pada duniaku beranjak untuk menjadi tengah dalam amarah yang bahkan lebih merah dari biasanya. Banyak hal yang ingin ku teriakkan kala itu, termasuk ratusan tanya yang terlintas pada insan yang tetap bersatu walau ya tak ada hal yang membuat mereka tampak menjadi satu. Bila ini semua demi aku atau siapapun itu, aku tak pernah menyuruh untuk menjadikanku alasan bertahan untuk sebuah kisah yang seharusnya telah usai. Aku masih tak paham untuk apa sseseorang memutuskan bersama bila akhirnya setiap langkah pun tetap berjalan masing-masing. Jangankan bergandengan, seirama saja sudah tak mungkin. Mengapa dua hal yang bertentangan dipaksakan untuk berjalan beriringan? ahhhhh bangsat sekali tuntutan dunia agar menjalani hidup bersama si A B C D atau apapun itu. Bukannya boleh memilih untuk tetap bahagia dengan diri sendiri, untuk apa memaksakan bersama bila ujung-ujungnya seperti menuntaskan kewajiban dan harapan org lain.
Terkadang, aku teringat masa dimana kita dipersatukan menjadi sebuah kehangatan, menjadi sebuah rumah yang tahan segala macam rintangan. Aku pun masih ingat ketika nasi hambar itu diputuskan untuk kulahap dan kalian hanya meneguk air keran yang direbus. Segala macam usaha dilakukan sampai suatu saat kita bisa mengecap rasa selain hambar. Namun, banyak hal pula yang coba menghancurkan usaha ini dengan segala macam cara dari yang kasat mata sampai yang tak kasat mata. Heran, sungguh dimana otak dan hati insan yang tega iri dengan sedikit garam yang kita miliki. Bukankah mereka bahkan bisa membeli ayam? Ahhh sungguh rancu hati mereka, terlalu tertutup dengki. Bila kembali pada masa itu, semua terasa lebih indah karena banyak perjuangan yang dilakukan bersama. Sekarang, bangsat sekali ternyata ungkapan kebersamaan yang selalu dibangga-banggakan. Semua hal buruk pun akhirnya tetap terjadi, perjuanganpun tak pernah usai hingga kini, dan ujung-ujungnya ya tetap awan tak pernah cerah untuk kami.
Comments
Post a Comment