Sulam
Di ujung mentari yang tertutup daun terlihat seorang perempuan yang hendak menyulam kesedihan. Agaknya, ia telah dihempas oleh banyak hal dan manusia semasa hidupnya. Mungkin saja ia tak perlu menyulam rasa yang bahkan tak nampak, atau mungkin saja ia dapat hempas semua rasa duka dengan kebanggaan pada dirinya yang telah cukup bertahan menghadapi setiap pelik dalam hidupnya. Namun, perempuan itu tetap memilih untuk menyulam kesedihan, bersama derai angin yang kian kencang dan air yang terus mengalir dari pelupuk mata. “Aku tak apa” katanya, toh dunia selama ini juga selalu melihatku bahagia, penuh tawa, dan selalu tak apa. “Bukankah kau juga perlu rehat dari semua palsu yang kau tebar?”kataku sambil beranjak menekatinya. “Ini caraku rehat, aku mengeluarkan semua diriku pada tiap bait kata yang kusulam dalam kepedihanku. Orang lain tak perlu tahu kapan aku rehat dan bagaimana caraku rehat. Biarkan mereka nikmati canda tawa palsu yang ku tebar, karena duka pun tak ada yang percaya pastinya”, katanya dengan sedikit rasa kesal. “kau sebenarnya egois, kau tak perlu tebar tawa palsu, terkadang kau perlu sedikit tunjukkan bila kau tak baik-baik saja supaya yang lain tak mengusikmu dengan hal yang tak membuatmu bahagia”. Kukira, ini adalah sedikit kisah yang mungkin saja dialami segelintir manusia. Terkadang diri sendiri terlalu egois pada diri sendiri dan memaksa untuk tetap baik baik saja. Padahal, sangat tak apa bila kita memilih untuk tak baik-baik saja toh bila akhirnya diri kita hilang dari dunia, dunia akan tetap berjalan semestinya, lambat laun juga kita akan dilupakan dan dianggap tak ada.
Comments
Post a Comment