In Medias Res

Bukan inti yang akan dibagi, atau bahkan pencapaian pada akhir Januari. Hanya sebuah persimpangan di tengah jalan nan panjang tanpa ujung yang belum dapat dinikmati. Aku ingin tidur siang ini, namun tetesan keran yang kurang rapat semakin bising dan membuatku kembali pada pertengahan Februari yang sebentar lagi kuhinggapi. Aneh rasanya memutuskan untuk sekedar singgah dan tak lagi meratapi. Kata orang, dia yang pergi tak boleh lagi kau harap tuk kembali, apalagi bila perginya pun menghadap Tuhan yang kau minta pertolongan selama ini. Layaknya syair baginda Segara,

Selalu ada yang pergi, dan ditinggalkan

Selalu ada yang tak kembali, dan dilupakan              

- Le Poete Maudit, Irwan Segara

Genap satu dekade Februari kali ini. Jelas aku berjanji untuk tak lagi meratap pada bayang semu, pada kenangan yang lalu, dan pada rasa yang usang di makan waktu. Sebagian berkata bila hancurlah diriku kala itu, pastilah lenyap semua harap dan angan yang direncana, bahkan rasa manis jagung pun tak lagi terasa. Kini, cuplikan memori membuatku tertampar cukup keras hingga akalku tak lagi dungu. Rupanya, yang disebut 'hancur' kala itu membuatku semakin utuh dan membuat kepingan tekad rapuh menjadi lebih tangguh. Tak apa bila raga selalu gemerlap walau masih hampa rasanya hati ini menancap. Selamat satu dekade bersama dan selalu mengiringi setiap langkahku, mengingatkanku lewat memori kala itu untuk menjadi makhluk yang tak hanya takut pada Tuhan namun takut pula pada semesta. Seuntai kata yang akan selalu terbayang ketika kau ucap siang itu, "Tak apa menjadi penakut dan cengeng, cukuplah simpan takut dan cengengmu dalam kalbu. Saat nantinya kau bangkit, kau akan lebih kuat dan menghargai setiap proses dalam hidupmu". Terima kasih kasihku satu dekade lalu, nampaknya sudah dua tahun pula aku hilangkan ratapanku dengan doa dan kebahagiaan yang akan selalu menyertaimu. 

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda