Basis

Lelaki di persimpangan, begitu tepatnya memoriku mengingat suasana sore dengan awan mendung dan gemuruh aspal penuh kepulan polusi. Bila tak salah otakku mengingat, aku melihat lelaki nelangsa yang berlinang air mata.  Oh, awalnya aku terdiam tanpa banyak ucap kata, hanya terdiam menunggu aspal tak lagi panas barulah diriku jalan ke seberang. Namun, lelaki itu datang dan pegang erat lenganku sembari berkata : dapatkah saya meminta tolong barangkali 1 menit?. Pastinya kuberikan 1 menitku untuknya, dengan tatapan nanarnya, aku merasa sesuatu yang aneh terjadi padanya. Tanpa kusangka, saat itu adalah 1 menitku yang berharga dari ribuan menitku lainnya. Hanya beberapa kalimat yang ia ungkap dan berhasil menghipnotis prinsipku hingga saat ini. Katanya, ia baru saja membunuh mimpi anaknya dan sebabkan sang anak mengakhiri hidupnya, ia selalu mengucap kemanakah ia nanti? akankah ia ke neraka? sungguhkah ia amat bersalah karena membunuh mimpi sekaligus harapan hidup sang anak?. Bila sebelumnya diriku terlampau sering memberika kotak pada sebuah dosa atau tidak dosa, sebuah amal atau bukan amal, maupun pantasnya di surga atau neraka, mulutku brucap lain kala itu. Entah mengapa, kusadari sekejap bila semesta bukan hanya hitam dan putih, air dan api, maupun bumi dan langit. Luasnya antariksa pun tak dapat memberikan jawaban kemana manusia akan pergi, kemana perbuatannya dipertanggungjawabkan, ataupun dosakah tindakan yang ia lakukan. Lalu, pantaskah aku yang tak tahu menahu perihal rahasia semesta memberikan jawaban pada sang lelaki?. Aku pun tak tahu pasti pantaskah aku dimasukkan dalam surga, maka aku tak bisa menjawab kemana engkau akan diletakkan. Sebaiknya, cukuplah kau bayar dengan pengabdian lebih dalam pada tuhanmu, rahasiakan pengabdian dan ibadahmu layaknya kau rahasiakan seluruh dosa yang kau anggap dosa itu. Orang lain tak perlu tahu bagaimana engkau akan mengabdi dan berserah pada Tuhan, mereka pun tak perlu mengerti tindakan yang kau anggap dosa itu. Cukup simpan semua dengan Tuhanmu, janganlah lupa berbisik dalam sujudmu, siapa tahu langit dan seisinya mendengar tangisan batinmu.

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda