Algea
Selayang kabar dari kawanku tentang luka yang merah dan masih meradang. Katanya ia bingung, ia seperti ada raga tanpa rasa, seperti ada jiwa tanpa akal. Sudah tak heranlah lagi karena asal muasalnya adalah luka dari sebuah kasih yang baru baru ini ia kenal dan terpikat untuk lebih rekat. Nyatanya, sang kasih menutup rasa dan membiarkan kawanku rasa kawan sahaja. Klise kelihatanya, banyak puan yang menghempas dengan dalih cukup berkawan sahaja, ya termasuk perlakuanku dulu pada tuan yang kupikir sahabatku seutuhnya. Kalau boleh dikata, memang seperti tak ada daya, timbulkan tanya, dan tancapkan luka. Namun, apalah daya, manusia bukan Tuhan, dapat menyihir hati dan berbalik sekejap saja. Terkadang, luka membuat kita bak merpati yang nelangsa ditinggal sang pujangga. Luka pun memberi kita akal tak waras dan menihilkan logika. Namun, hidup bukan hanya perihal rasa, luka, dan nestapa. Ada banyak manusia lain yg perlu kita jaga, mimpi yang kita capai, dan peristiwa yang mungkin saja lebih buruk dari sekadar luka yang ada kini. Biarkan semua mengalir, lepas, terhempas bersama ombak entah kemana akan membawa. Percayalah, Tuhan siapkan rencana lebih indah entah kapan masanya. Kita hanya bisa jalankan apa yang ada di hadapan kita saat ini, sebagai hamba yang penuh dosa, jangan lupa berserah diri, bersorai dengan nestapa yang kau miliki, dan kuat menghadapi peristiwa kedepan nanti.
Comments
Post a Comment