Awal


Semua berawal dari kecemasan dalam hidupku, sekelumit pikiran yang mengganjal dan akhirnya tertuang dalam rangkai kata. Aku tak pernah mengerti akan menjadi seperti apa diriku di masa yang akan datang. Aku hanya mengerti bahwa hidup yang kujalani adalah goresan aksi dari setiap mimpi. Apa yang kuterima hari ini adalah sesuatu yang ku tanam di masa lampau, apa yang kuterima nanti adalah hasil dari keniatan hari ini. Begitulah hidup, penuh dengan proses baik memahami, memaknai, dan menjalani. Disaat kita memikirkan yang lalu, akan terbesit sebuah ‘kala’ yang tercipta dalam ucapan, dengan sedikit pengandaian, harapan, ataupun penyesalan. Sebuah ‘kala’ dengan sejuta makna itu kusebut zindagi. Ia adalah ‘kala’ yang selalu kubayangkan akan jadi apa nantinya, dan kukenang setiap masa yang telah lalu bersamanya. Rumit? Ya memang begitulah zindagi-ku berjalan, tak mungkin selurus tali yang membentang. Kompleksitas yang kujalani terimbangi oleh keyakinan yang selalu meneguhkan walau kenyataan tak selalu berkutat pada apa yang diinginkan. Tentunya, banyak elemen pendukung yang turut mengisi ‘kala’ yang kusebut itu. Keluargaku, sahabatku, saudara dan tetanggaku, serta berbagai macam temanku. Mereka adalah sedikit warna selain hitam putih yang kumiliki, pendukung dan stimulus energiku, serta ramuan konflik dalam hidangan ‘kala’ ku. Aku hanya ingin kala-ku menjadi sesuatu yang telah kugantung sebelumnya, sesuatu yang telah kutulis saat senja, serta jutaan harapan yang kupandang bersama Sirius kesukaanku.
Hanyutlah…
Bersama kala yang tak tau arah
Bersama hunian antah berantah
Serta amarah yang merah merekah

            Keinginan untuk menjulang lantas terpatahkan oleh kewajiban yang mestinya dijalankan. Bersama segenap tanggungjawab yang terkadang membebani akal dan merenggut impian nurani. Kewajiban yang ada merupakan kenyataan yang sudah sepantasnya diterima menjadi patokan awal mencapai kala yang nantinya diinginkan. Dengan menepis semua ego, sedikit demi sedikit kewajiban itu mulai dijalankan termasuk mencari secuil materi bernikmat sesaat. Semua perjalanan dari mengeja, mengerti, memahami, memaknai, dan tertatih tersusun dalam rangkaian kala itu, kini, lalu, dan nanti. Berawal dari kala itu, aku meyakini diriku telah benar mengambil keputusan dan tujuan yang akan kucapai untuk meneruskan segala petuah yang selalu diberikan padaku. Memang, sungguh polos diriku kala itu, selalu mengerjakan sesuat tanpa koreksi dan penuh ambisi. Dengan sedikit sombong! Aku percaya bahwa semua yang kujalani tak akan keluar jalur. Bersama teman-teman yang mendukung dan selalu bersamaku, rasanya sungguh mudah kakiku menopang asa.

Comments

Popular posts from this blog

Dhanyavaad

DUA PULUH DELAPAN

Sepucuk Makna Untuk Dinda