Basis
Lelaki di persimpangan, begitu tepatnya memoriku mengingat suasana sore dengan awan mendung dan gemuruh aspal penuh kepulan polusi. Bila tak salah otakku mengingat, aku melihat lelaki nelangsa yang berlinang air mata. Oh, awalnya aku terdiam tanpa banyak ucap kata, hanya terdiam menunggu aspal tak lagi panas barulah diriku jalan ke seberang. Namun, lelaki itu datang dan pegang erat lenganku sembari berkata : dapatkah saya meminta tolong barangkali 1 menit?. Pastinya kuberikan 1 menitku untuknya, dengan tatapan nanarnya, aku merasa sesuatu yang aneh terjadi padanya. Tanpa kusangka, saat itu adalah 1 menitku yang berharga dari ribuan menitku lainnya. Hanya beberapa kalimat yang ia ungkap dan berhasil menghipnotis prinsipku hingga saat ini. Katanya, ia baru saja membunuh mimpi anaknya dan sebabkan sang anak mengakhiri hidupnya, ia selalu mengucap kemanakah ia nanti? akankah ia ke neraka? sungguhkah ia amat bersalah karena membunuh mimpi sekaligus harapan hidup sang anak?. Bila sebelu...