Kukira Usai
Kukira semua telah usai kala itu, awan seperti tak ingin menampakkan rona cerah sedikitpun. Gemuruh amarah semakin menggelegar malam itu. Ya, kupastikan semua akan usai kala itu, tapi untuk kesekian kalinya, aku tetap tak ingin semua yang sudah hancur menjadi semakin hancur tanpa sisa. Seperti biasa, aku yang awalnya memutuskan untuk acuh dan terpaku pada duniaku beranjak untuk menjadi tengah dalam amarah yang bahkan lebih merah dari biasanya. Banyak hal yang ingin ku teriakkan kala itu, termasuk ratusan tanya yang terlintas pada insan yang tetap bersatu walau ya tak ada hal yang membuat mereka tampak menjadi satu. Bila ini semua demi aku atau siapapun itu, aku tak pernah menyuruh untuk menjadikanku alasan bertahan untuk sebuah kisah yang seharusnya telah usai. Aku masih tak paham untuk apa sseseorang memutuskan bersama bila akhirnya setiap langkah pun tetap berjalan masing-masing. Jangankan bergandengan, seirama saja sudah tak mungkin. Mengapa dua hal yang bertentangan dipaksakan...